Kamis, 21 Agustus 2014

Rumah Ideal Harus Sesuai dengan Kondisi Lokal

Kompetisi tidak hanya memberikan pujian bagi pemenangnya. Di ranah arsitektur, kompetisi bisa juga memberikan kesejahteraan bagi kaum marjinal.
Sebuah kompetisi yang disponsori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Building Trust International, Habitat for Humanity, dan Karuna Cambodia menyediakan ruang bagi desain rumah-rumah murah di Phnom Penh, ibukota Kamboja. 
 
Desain-desain pemenang ternyata bisa memberikan jawaban bagi kebutuhan rumah murah tahan bencana di negeri itu.
 
Lebih dari 600 tim telah mengirimkan karyanya pada 2013 lalu. Namun, hanya tiga dari antara para pengirim karya yang akhirnya terpilih dan bisa membangun rumahnya dengan biaya sebesar masing-masing 2.000 dollar AS atau setara Rp 22,9 juta. Meski terbilang cukup minim, biaya tersebur rupanya bisa digunakan untuk membangun rumah sederhana yang sesuai dengan kondisi lokasi.
 
Rumah pertama bernama Courtyard House. Menurut perancang sekaligus pembangunannya, Jess Lumley dan Alexander Koller, empati dan pengertian lingkungan menjadi bekal mereka dalam mendesain rumah. Setelah bertahun-tahun bekerja di Kamboja, tim yang berasal dari Inggris tersebut akhirnya mengerti bahwa kesederhanaan jauh lebih penting. Mereka menggunakan material-material tradisional, seperti dinding dari batu bata, tiang kayu, tikar daun palem, dan penutup jendela dari bambu.
 
"Kami ingin membuat rumah yang akrab dengan keluarga yang akan pindah ke tempat ini. Sebuah rumah yang nyaman dan tidak terasa asing dengan sekelilingnya," ujar Lumley.
 
Rumah ini dibangun dengan bentuk menyerupai panggung. Karena itu, di lantai dasar terdapat ruang yang teduh untuk menaruh motor atau tempat tidur hammock.
 
Selain menyerupai panggung, rumah juga dibagi menurut fungsinya. Misalnya, ada bagian khusus untuk memasak, bagian khusus untuk mencuci. Jembatan digunakan untuk menghubungkan bagian-bagian tersebut. Jembatan selebar lima hingga 12 meter ini juga berfungsi sebagai area ventilasi.
 
Ada pula rumah yang dibangun oleh tim desainer asal Australia, Visionary Design Development Pty. Ltd. Tim tersebut membangun rumah bernama Wet + Dry House. Tim yang terdiri dari Muhammad Kamil, Nick Shearman, Ralph Green dan Mary Ann Jackson juga menyiapkan rumah yang mampu bertahan menghadapi banjir. 
 
Mereka melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Alih-alih menaikkan ketinggian rumah secara drastis, Wet + Dry House memperkenalkan ide berupa respon multi tahapan.
 
Setiap rumah memiliki bagian dengan ketinggian berbeda. Rumah-rumah tersebut memiliki teras yang sedikit terangkat dari pemukaan tanah, namun juga memiliki bangunan lebih tinggi.
 
Mereka berharap penduduk tidak hanya tinggal di rumah murah yang berkelanjutan, namun juga gencar bersosialisasi, melakukan kegiatan ekonomi, dan menanam lebih banyak tanaman tanaman. Keberadaan teras dengan ketinggian yang tidak jauh dari permukaan tanah membuat kegiatan bersosialisasi pun tidak sulit dilakukan.
 
Rumah terakhir dibangun oleh tim dari Amerika Serikat. Tim yang terdiri dari desainer Keith Greenwald dan Lisa Ekle membangun rumah bernama Open Embrace. Mereka sudah melakukan riset terhadap kondisi eksisting delta Sungai Mekong.
 
Ruang untuk berkegiatan di rumah ini ditopang dengan batu bata tanah liat. Batu bata tersebut menjaga rumah dan penghuninya dari banjir. Di musim kemarau, bagian bawah rumah yang terhalang bangunan bisa menjadi lokasi teduh untuk bersosialisasi.
 
"Material rumah-rumah ini familiar dan diproduksi secara lokal. Hal ini menstimulasi perekonomian dan menghubungkan komunitas. (Rumah-rumah) ini menghormati tradisi dan teknik vernakular, memperbaruinya menjadi visi Kamboja modern," ujar Greenwald.
 
 
 
Sumber: Kompas.com/SolusiProperi.com

Selasa, 19 Agustus 2014

Inilah 10 Kota Favorit Para Investor di Dunia


Jakarta, SolusiProperti.Com - Banyak kota yang indah tersebar di berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Sejumlah bangunan dan arsitektur yang menarik di dalamnya mampu mengundang banyak pengunjung asing. Tak hanya sebagai tempat tinggal tapi kota-kota tersebut bisa menjadi surga investasi bagi para investor real estate.



×
Ternyata tak hanya kota di 
×
Amerika yang mampu menarik para investor real estate super kaya, berikut 10 kota favorit orang-orang kaya di dunia:


1. London

London tampak seperti kampung halaman bagi berbagai orang kaya di dunia. Entah diktator kaya di 
×
Timur Tengah atau konglomerat dari Rusia, London akan tetap menjadi tempat unggulan hingga 10 tahun mendatang.

2. New York



Hampir mirip dengan London, New York akan tetap menjadi kota pilihan orang kaya dunia sampai 10 tahun ke depan. Selama Wall Street masih menjadi pasar ekuitas terbesar di dunia, real estate 
×
New York akan terus menarik para investor super kaya dan menjadi rumah kedua bagi para peminat real estate mahal.

3. Hong Kong

Kota ini menjadi salah satu yang termahal di dunia, bahkan lebih mahal dari New York. Hong Kong merupakan favorit orang-orang terkaya dunia. Namun 10 tahun ke depan, 
×
Hong Kong akan disalip 
×
Beijing dan tergelincir ke posisi ke-6 dunia.

4. Paris

Dalam 10 tahun ke depan, 
×
Paris akan digantikan oleh 
×
Shanghai dan turun tiga peringkat ke posisi 7 sebagai kota favorit para miliarder dunia. Meski begitu, 
×
Paris tetaplah Paris.

5. Singapura

Kota pelabuhan terbesar dunia ini banyak mengambil keuntungan dari pertumbuhan negara-negara kawasan Asia. Singapura merupakan pusat perdagangan komoditas dan berperan sebagai pintu masuk ke pasar-pasar Asia. Singapura diprediksi tetap berada di peringkat ke-5 dalam 10 tahun mendatang.

6. Miami

Real estate 
×
Miami banyak dibeli para pengusaha asing meski banyak sekali populasi 
×
Amerika didalam dan disekitarnya baru pulih dari penyitaan. Miami diperkirakan akan digeser keluar dari daftar ini oleh kota-kota di 
×
Asia dalam 10 tahun ke depan. Namun kota ini akan tetap menjadi kota terfavorit dunia kedua di Amerika.

7. Jenewa

Kota di 
×
Swiss ini akan tergeser kota-kota dari negara berkembang dan turun ke posisi 9 dalam satu dekade.

8. Shanghai

Shanghai terus nampak sebagai salah satu kota paling diminati dan penting bagi para miliarder global. Dalam satu dekade, 
×
Shanghai akan naik empat peringkat dari sekarang, menarik turun peringkat Paris.

9. Beijing

Beijing akan naik ke peringkat 3 menggeser 
×
Hong Kong dalam 10 tahun.

10. Berlin

Berlin akan terus berada di posisi ke-10 sebagai kota paling favorit bagi para miliarder.
 
- See more at: http://www.solusiproperti.com/nasional/properti-award/artikel/inilah-10-kota-favorit-para-investor-di-dunia#sthash.eyaE92NI.dpuf

Minggu, 17 Agustus 2014

DIJUAL: Rumah Bernuasa Elegant, Dan Kebun Harga Rp. 11.000.000.000/Nego

Hubungi
Ibu Evi Fitini
Telp. 02145555537-02196524794
Hp. 081283013948/085888258218




Detail Properti

Tipe Properti : Rumah

Luas Tanah : 3000 m2

Luas Bangunan : 1250 m2

Kamar Tidur : 7/3

Kamar Mandi : 5/3

Garasi : 7 mobil

Jumlah Lantai : 2 lantai

Line Telephone : 1 line

Listrik : 13.300 watt

Fasilitas : Carport, AC, Garden







Rumah Ideal Harus Sesuai dengan Kondisi Lokal

Kompetisi tidak hanya memberikan pujian bagi pemenangnya. Di ranah arsitektur, kompetisi bisa juga memberikan kesejahteraan bagi kaum marjinal.
Sebuah kompetisi yang disponsori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Building Trust International, Habitat for Humanity, dan Karuna Cambodia menyediakan ruang bagi desain rumah-rumah murah di Phnom Penh, ibukota Kamboja. 
 
Desain-desain pemenang ternyata bisa memberikan jawaban bagi kebutuhan rumah murah tahan bencana di negeri itu.
 
Lebih dari 600 tim telah mengirimkan karyanya pada 2013 lalu. Namun, hanya tiga dari antara para pengirim karya yang akhirnya terpilih dan bisa membangun rumahnya dengan biaya sebesar masing-masing 2.000 dollar AS atau setara Rp 22,9 juta. Meski terbilang cukup minim, biaya tersebur rupanya bisa digunakan untuk membangun rumah sederhana yang sesuai dengan kondisi lokasi.
 
Rumah pertama bernama Courtyard House. Menurut perancang sekaligus pembangunannya, Jess Lumley dan Alexander Koller, empati dan pengertian lingkungan menjadi bekal mereka dalam mendesain rumah. Setelah bertahun-tahun bekerja di Kamboja, tim yang berasal dari Inggris tersebut akhirnya mengerti bahwa kesederhanaan jauh lebih penting. Mereka menggunakan material-material tradisional, seperti dinding dari batu bata, tiang kayu, tikar daun palem, dan penutup jendela dari bambu.
 
"Kami ingin membuat rumah yang akrab dengan keluarga yang akan pindah ke tempat ini. Sebuah rumah yang nyaman dan tidak terasa asing dengan sekelilingnya," ujar Lumley.
 
Rumah ini dibangun dengan bentuk menyerupai panggung. Karena itu, di lantai dasar terdapat ruang yang teduh untuk menaruh motor atau tempat tidur hammock.
 
Selain menyerupai panggung, rumah juga dibagi menurut fungsinya. Misalnya, ada bagian khusus untuk memasak, bagian khusus untuk mencuci. Jembatan digunakan untuk menghubungkan bagian-bagian tersebut. Jembatan selebar lima hingga 12 meter ini juga berfungsi sebagai area ventilasi.
 
Ada pula rumah yang dibangun oleh tim desainer asal Australia, Visionary Design Development Pty. Ltd. Tim tersebut membangun rumah bernama Wet + Dry House. Tim yang terdiri dari Muhammad Kamil, Nick Shearman, Ralph Green dan Mary Ann Jackson juga menyiapkan rumah yang mampu bertahan menghadapi banjir. 
 
Mereka melakukan pendekatan yang sedikit berbeda. Alih-alih menaikkan ketinggian rumah secara drastis, Wet + Dry House memperkenalkan ide berupa respon multi tahapan.
 
Setiap rumah memiliki bagian dengan ketinggian berbeda. Rumah-rumah tersebut memiliki teras yang sedikit terangkat dari pemukaan tanah, namun juga memiliki bangunan lebih tinggi.
 
Mereka berharap penduduk tidak hanya tinggal di rumah murah yang berkelanjutan, namun juga gencar bersosialisasi, melakukan kegiatan ekonomi, dan menanam lebih banyak tanaman tanaman. Keberadaan teras dengan ketinggian yang tidak jauh dari permukaan tanah membuat kegiatan bersosialisasi pun tidak sulit dilakukan.
 
Rumah terakhir dibangun oleh tim dari Amerika Serikat. Tim yang terdiri dari desainer Keith Greenwald dan Lisa Ekle membangun rumah bernama Open Embrace. Mereka sudah melakukan riset terhadap kondisi eksisting delta Sungai Mekong.
 
Ruang untuk berkegiatan di rumah ini ditopang dengan batu bata tanah liat. Batu bata tersebut menjaga rumah dan penghuninya dari banjir. Di musim kemarau, bagian bawah rumah yang terhalang bangunan bisa menjadi lokasi teduh untuk bersosialisasi.
 
"Material rumah-rumah ini familiar dan diproduksi secara lokal. Hal ini menstimulasi perekonomian dan menghubungkan komunitas. (Rumah-rumah) ini menghormati tradisi dan teknik vernakular, memperbaruinya menjadi visi Kamboja modern," ujar Greenwald.
 
 
 
Sumber: Kompas.com/SolusiProperi.com

Kamis, 14 Agustus 2014

Nih... Aplikasi Gratis untuk Mengatur Ruangan dan Posisi Furnitur!


Claiborne Swanson Frank / Vogue
Ruang hasil gubahan Bibi Monnahan ini tampak glamor. Untuk menyeimbangkan aksen berwarna merah muda mencolok dan kursi bercorak zebra, Monnahan menggunakan meja kopi tembus pandang. Pemilihan ukuran meja kopi ternyata juga menjadi kunci agar interior tidak tampak penuh.

KOMPAS.com -
 Desain interior di dalam rumah bisa tampak menyatu dengan sempurna apabila pengaturan posisi barang-barangnya pun tepat. Sayangnya, bagi sebagian orang, mengatur tata letak furnitur bukan hal mudah. 

Anda merasakan hal yang sama? Tak ada salahnya menyimak cara mudah dari kontributor blog Huffington Post, Alessandra Wood, berikut ini. Wood memberikan tiga cara yang akan memudahkan Anda mencapai pengaturan efektif di dalam rumah.
Pertama, Anda bisa memanfaatkan piranti lunak (software) atau aplikasi untuk mengatur posisi furnitur di dalam rumah Anda. Aplikasi semacam ini membuat Anda tidak perlu mengangkat furnitur sampai mencapai posisi yang tepat. Bagi pemilik rumah baru, aplikasi semacam ini pun bisa membantu Anda memilih jenis furnitur yang sesuai keinginan dan kebutuhan sebelum mengeluarkan banyak uang untuk membeli sofa, kursi, meja, atau furnitur lain.
Anda bisa menggunakan aplikasi Homestyler yang tersedia untuk alat-alat elektronik berbasis Android dan iOS. Dengan aplikasi ini, Anda tidak perlu menggambar denah ruangan Anda dan furnitur secara manual. Aplikasi ini juga bisa diunduh secara gratis.
Dalam penggunaan aplikasi tersebut, Wood mengingatkan Anda untuk tidak terpaku pada pemilihan warna atau jenis furnitur. Hal terpenting yang harus Anda pertimbangkan adalah bentuk, ukuran, dan posisi furnitur tersebut di dalam ruangan.
Kedua, mulailah mengaplikasikan hasil desain tata letak rumah Anda dalam aplikasi atau dalam gambar ke ruangan yang sebenarnya. Gunakan lakban atau painter's tape (sejenis lakban yang tidak meninggalkan bekas, biasa digunakan oleh tukang cat) untuk menandakan letak furnitur di ruangan tersebut. 

Rekatkan lakban di lantai sesuai dengan ukuran furnitur. Kemudian, berjalanlah di antara "furnitur" tersebut. Jika Anda merasa terlalu sempit, Anda perlu mengatur kembali tata letak di dalam rumah. Jika Anda merasa cukup, Anda bisa segera menata interior atau membeli furnitur yang Anda inginkan.
Terakhir, lakukan pengecekan ulang. Meski pengaturan secara digital sudah baik, belum tentu pengaturan interior yang asli benar-benar terasa nyaman. Setelah Anda menempatkan furnitur-furnitur ini, coba nikmati ruangan tersebut dan lakukan evaluasi singkat. 

Duduklah di tiap kursi yang ada di dalam ruangan. Kemudian, tinggalkan ruangan beberapa saat, dan kembali ke dalam ruangan. Jika masih merasa janggal, catat kejanggalan, ambil fotonya, tata kembali, dan bandingkan dengan pengaturan sebelumnya yang sempat Anda foto.


Rabu, 13 Agustus 2014

Dijual : Rumah Cantik Siap Pakai Jatiwarna, Bekasi

Hubungi
Ibu Evi Fitini
Telp. 02145555537-02196524794
Hp. 081283013948/085888258218


Deskripsi

Lokasi strategis dekat dengan tol Jorr Jati Warna , bebas banjir kondisi lingkngan nyaman,
Kamar Tidur : 4/1
Kamar Mandi : 3
Luas Tanah : 160 m2
Luas Bangunan : 110 m2
Jumalah Lantai : 2
Harga : Rp 1.400.000.000/Nego
Sertfikat : Sertifikat Hak Milik
Daya Listrik : 2.200 watt
Garasi : 1 Mobil





Pilah Pilih Dinding Tanaman "Pendingin" Rumah!

www.shutterstock.com
Pagar tersebut sedap dipandang mata dan juga bisa menyaring udara kotor serta menyerap zat karbondioksida. Dengan begitu, udara yang masuk ke dalam rumah akan bersih dan terasa segar.
KOMPAS.com — Untuk desain rumah yang beriklim tropis, kadang kala kita membutuhkansecondary skin agar cahaya matahari tidak langsung masuk ke dalam ruangan. Kali ini, cobalah buat dinding tambahan yang berkolaborasi dengan tanaman, sebuah dinding tanaman. 

Selain sebagai pelindung dari paparan sinar matahari langsung, dinding tanaman pun akan menyejukkan rumah sehingga hobi bercocok tanam pun dapat tersalurkan. Anda dapat mencoba mengganti "sedikit" pagar yang ada dengan pagar tanaman. 

Pagar tersebut sedap dipandang mata dan juga bisa menyaring udara kotor serta menyerap zat karbondioksida. Dengan begitu, udara yang masuk ke dalam rumah akan bersih dan terasa segar.

Namun, agar lebih aman, padukan bagian ini dengan material lain, seperti beton, besi, atau kayu. Jangan lupa memangkasnya agar pagar tanaman tetap terlihat cantik.

Selain itu, Anda juga bisa menanam pohon di pekarangan rumah. Penempatan dinding tanaman yang tepat akan melindungi rumah dari sengatan matahari. 

Pilih pohon yang bercabang banyak dan dahan dan ranting yang tidak mudah patah agar dapat membentuk kanopi alami. Pohon yang biasa dipilih adalah pohon mahoni, tanjung, dan asam. Sama seperti dinding tanaman dan pagar tanaman, pohon yang ditanam di pekarangan pun dapat menyerap zat karbondioksida.

Percantik balkon Anda dengan tanaman. Hal tersebut akan menyejukkan serta memperindah balkon Anda. Pilih tanaman yang cocok dengan keadaan balkon. Jika cukup sinar matahari, tanaman berbunga cocok dijadikan pilihan. Balkon Anda akan "berwana". Bila kurang sinar matahari, pilih tanaman yang berdaun indah, seperti anturium. 

Memang, semua butuh waktu ekstra untuk merawatnya. Akan tetapi, tak ada salahnya mencoba. Selain tidak mengeluarkan banyak biaya, dengan dinding tanaman, rumah pun menjadi sejuk dan sedap dipandang mata. 

(Primaningtyas KC, Yusuf Fatchurrochman, Sabrina Alisa
)